Antara Tarakan dan Malinau
Sesaat sebelum naik pesawat Susi air
Berfoto dikawasan wisata hutan bakau dekat Pelabuhan Laut Tarakan
Pesawat berpenumpang 12 orang ini milik perusahaan penerbangan Susi Air, tentu para pembaca tidak asing lagi dengan perusahaan penerbangan tersebut, perusahaan tersebut milik Ibu Susi, seorang pengusaha eksportir hasil laut yang berasal dari Ciamis Jawa Barat. Susi Air mulai dikenal ketika terjadi bencana tsunami di Aceh, pesawat Isu Susi inilah yang pertama memberikan bantuan logistik bagi masyarakat aceh ketika terjadi bencana tsunami, dengan pesawat kecil beliau bisa mendaratkan pesawat dilandasan lapangan terbang yang telah rusak oleh tsunami, sejak itulan nama Susi Air dipakai untuk nama perusahaan penerbangannya. Sekarang Susi Air membantu membuka akses transportasi di daerah terpencil diseluruh wilayah Indonesia. Dalam hal ini tentunya Susi Air sangat berjasa didalam membantu mengembangkan wilayah yang terisolir sehingga menjadi lebih berkembang perekonomiannya muapun pembangunan wilayahnya.
Suasana di kabin Susi Air
Pemandangan yang terlihat diatas pesawat Susi Air
Setelah berputer-puter di Tarakan untuk menghilangkan rasa lapar kita yang terasa menghimpit selagi dari Jakarta maka jangan dilewatkan masakan terkenal asli Tarakan apalagi kalau bukan berbagai macam makanan bertemakan kepiting. Ada kepiting rasa saus manis, rasa lada hitam, kepiting goreng, dan kepiting yang lainnya. Untuk menghilangkan rasa penasaran kita, maka kita pilih semua masakan tersebut ha..ha.. emang tukang makan.
Perjalanan menuju Malinau menggunakan pesawat berpenumpang 12 orang sungguh merupakan pengalaman yang tak terlupakan, karena baru pertama kali saya menaiki pesawat tersebut jadi ada perasaan cemas sekaligus perasaan penasaran, banyaknya kejadian kecelakaan pesawat menambah perasaan tak menentu saat menaiki pesawat tersebut. Untungnya pesawat Susi Air menggunakan pilot yang terlatih mereka adalah pilot-pilot yang didatangkan dari luar alias orang bule yang berpengalaman menerbangan pesawat tersebut di daerah yang terkenal susah untuk dijangkau dan medan yang cukup sulit untuk di lalui yaitu Papua.
Mau mudik lagi ke Tarakan
Pesawat berbaling-baling satu itu akhirnya tinggal landas, ternyata asik juga menaiki pesawat tersebut, pemandangannya yang dapat dilihat diatas menjadi tambah dekat dan lebih indah jika dibandingkan dengan pemandangan yang terlihat dari pesaat boeing 727 karena ketinggian pesawat lebih rendah, saya tidak tahu pastinya ketinggian pesawat tersebut mungkin sekitar 700 m-1 km diatas permukaaan laut. Pesawat kecil tersebut sangat mudah sekali digerakkan kenanan- dan kekiri sehingga menambah sensasi yang menyenangkan atau bagi sebagian orang bisa saja hal tersebut malah semakin menambah rasa takut. Cuaca pada saat berangkat agak buruk sehingga pada saat pesawat akan mendarat agak kesulitan dan sulit sekali mencari celah yang tidak tertutup awan dan tidak terkena air hujan, pesawat berputar-putar dan pilot pesawat memberitahukan bahwa kita akan kembali ke Tarakan jika situasi tidak berubah, kontan saja perasaan para penumpang semakin dibuat ketar-ketir takut sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, saya tanya kepada penumpang sebelah duduk saya yang asli Malinau dan sering bolak-balik naik pesawat tersebut, menurut dia hal ini jarang sekali terjadi hal ini tentu saja menambah perasan tak karuan he..he...
Akhirnya pilot berhasil menerobos awan pekat dan akhirnya kita mendarat di Bandara Malinau yang baru saja di bangun oleh Pemda Malinau. Bandara tersebut sangat sederhana bangunannya kedatangan penumpang masih sangat sederhana dan sedang dibangun bangunan yang lebih bagus untuk kelengkapan bandara. Malinau termasuk Kabupaten yang mengandalkan perekonomiannya kepada hasil hutan dan perekebunan serta tambak, namun tambak yang ada sepertinya tidak dikelola dengan baik sehinga banyak yang terlantar. Masih terdapat HPH yang mengelola hutan produksi yang luasannya terbatas, bangunan pemerintah berdiri dengan sangat megah sekali maklum pendapatan daerah dari DAU cukup besar dengan penduduk yang relatif sedikit sehingga dana yang ada sangat memadai untuk membangun infrastruktur pemerintahan. Kota Malinau sangat sepi, dengan jalan yang cukup lebar namun demikian tidak berarti kecelakan kendaraan rendah justru sering kali terjadi kecelakaan dengan kondisi jalan yang relatif sepi, maklum memungkinkan untuk menjalankan kendaraan melewati batas maksimumnya.
Gedung kedatangan Bandara Malinau
Saya menginap di hotel Wijaya yang terbaik di kota tesebut hotel tersebut menghadap langsung ke sungai sempayah yang airnya cukup deras akan tetapi menawarkan pemandangan yang cukup indah, sambil menyantap pisang goreng dan teh hangat kita bisa melihat para petani berlalu lalang di atas sampan sungguh pemandangan yang menakjubkan.
Berfoto dulu sebelum kembali ke Jakarta
Begitulah perjalanan saya dari Jakarta-Tarakan-Malinau semoga bermanfaat bagi rekan-rekan yang akan melakukan perjalanan ke tempat yang sama.

